Monday, December 12, 2011
Saya: Minggu depan saya manggung di PVJ dago, mo datang gaaa?
Dia: PVJ dago?
Saya: Ia PVJ dago..
hening.. baca ulang..
Goblok banget, sejak kapan ada PVJ di dago? maksud saya CFD!! aduh dit dit..
Suatu hari di sebuah kebohongan twitter
Saya: aduh pulsa abis euy
Dia: oh ya sip gpp
lalu ada seorang teman yang lain mention saya
Dia II: Dit pang kirimin teknis rundown buat perkusi nanti
Saya: Udah barusan di SMS
Gue jenius
Tuesday, December 6, 2011
Ehm.. buat pembukaan saya bikin pantun :
Hape bagus ga ada pulsa..
Hape jelek banyak pulsa..
Kamu suka saya suka..
Nyok kita kawin (ganyambung gituloh)
Hari minggu kemaren adalah hari terakhir saya menjadi jabrig. Minggu kemaren adalah hari dimana rambut-rambut saya dibantai secara tidak manusiawi (karena memang bukan manusia) dengan gunting cukur dan peralatan lainnya yang menyebabkan rambut saya sekarang pendek ga karuan, dibilang botak kaga, dibilang tintin kaga yaaa ga karuan deh pokonya, huft minggu-minggu yang berat ini dijalani dengan rambut yang sudah dipangkas rapih tsaahhh #kesambet. Kalo anda mengira saya dicukur di salon DPR (dibawah pohon rindang) kalian salah, saya dicukur di sebuah salon dekat rumah, nama salonnya D’Fond eh apaaaa gitu pokonya orang-orang nyebutnya “di fon” artinya? Peduli amat yang penting cukur. Sebelum cukur saya harus ngantri diantara banyak sekali wanita yang mau direbonding, warnain rambut, dan sesuatu yang, emm apalah namanya pokonya hair tritmen, ngurusin rambut........ bukan! Bukan rambut dikurusin! Tapi rambut di urusin! <--- penting abis.
Lanjut..
Sambil mengantri, saya liat kanan kiri, memperhatikan setiap manusia dengan seksama, memperhatikan aktivitas yang dilakukan setiap manusia-manusia tersebut, lirik sana lirik sini wajah saya terlihat serius, dengan wajah yang seperti ini saya lebih terlihat seperti maling yang haus birahi ketimbang jurnalis. Lalu saya bisa menyimpulkan sesuatu hal: Semua orang lagi maen hape bagus. Bukannya jiper liat manusia-manusia tersebut maenin hape yang aduhai-seksinya-mamah! Saya malah muak! Semuanya men, semuanya, dengan gaya mereka masing-masing yang membuat mereka lebih terlihat seperti para nerds ketimbang borju. Mata mereka ga pernah lepas dari hape tersebut, hape yang dipegang sejajar dengan dada dan kepala yang aga nunduk melototin hapenya tanpa pegel. Buset, saya perhatiin hapenya keren keren semua, dari mulai BB, iPhone, android dan lain lain. Anjrit berapa uang yg bisa mereka simpan jika hape yang mereka pake ngga semahal kancut-kancut itu!? Lalu hape saya berbunyi aga keras rupanya ada SMS yang masuk, otomatis saya ngeluarin hape. Hape saya yang super bagus (pada masanya) pun saya bisa terlihat oleh semua orang yang ada di ruang tunggu salon. Lalu seorang ibu-ibu bau kencur (tipikal wanita-wanita tajir suami pejabat: make up tebel, rambut dicet item kinclong mengkilat, sepatu hak tinggi dan sorot matanya ga ngenakin banget) sebelah saya nyeletuk pelan, “aduh, hapenyaaa” dikira si ibu saya ga denger kali ya, pas si ibu ngomong gitu, saya nyeletuk dalem hati sambil ngeliat muka si ibu “aduh keriputnyaaaa, dasar kolot-kolot bau kencur!”.
Bukannya ngiri (emang ngiri sih sebenernya) tapi saya ga suka aja gitu liatnya, kepala nunduk sambil smsan, brosingan, lalu apalah ngebokep sekalian! Mereka keliatannya kaya yang diperbudak oleh hape, make ngatain hape saya segala, this is my life men! And this is my HAPE! Ga usah ikut campur urusan saya dan hape saya hai wanita bau kencur! Yeah!
Jujur aja sih saya juga pengen punya hape-hape keren kaya gitu, gengsi gituloh tapi kalo dipikir pikir, buat apaan? Udah sempet nabung juga sampe berapa ratus ribu gitu tapi setelah berpikir lebih jauh ngapain juga saya beli hape yg kayak gituan coba? Balik ke fungsi hape deh, hape kan diciptain buat mempermudah kita dalam berkomunikasi satu sama lain, jadi apa bedanya hape Nokia life tools sama hape iPhone? Fungsinya kan sama, palingan fitur–fitur dan teknologinya aja yang jauh beda, buat main game? Maen PS aja! Buat Online? Maen aja di komputer! Denger lagu? Denger aja di mp3 player! Ribet amat! Ahahaha! Tapi yah kembali ke pribadi masing-masing sih, kebutuhan dan kemauan orang kan beda beda juga, ia ga? Siapa tau ntu orang kaga punya komputer di rumah jadi beli iPhone atau BB biar tetep bisa internetan dari pada beli komputer mahal sama modemnya segala #jleb. I’ll do it by my way and my way should be the best for myself. Hell yea! #kejangkejang
PS: Tulisan ini akan berbeda apabila saya menggunakan hape yang ga kalah keren. Hupla!
- Those thing is back in December! -
Saturday, November 26, 2011
Banyak manusia, bahkan seluruh manusia sangat menjunjung tinggi sebuah nilai Moral dan Keadilan. Moral dan keadilan merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Setiap manusia haruslah memiliki moral, karena manusia bukanlah binatang. Manusia sudah diciptakan sedemikian baik hingga menjadi makhluk terbaik yang ada di bumi ini. Tak perlu kita semua mencari keadilan apabila kita telah memiliki nilai moral yang kuat. Dari sini, saya tertarik oleh suatu pertanyaan. Kita membutuhkan keadilan, kita mencari keadilan, dan kita sungguh menjunjung tinggi keadilan tersebut, namun, apa sih sebenarnya adil itu? Apakah makna dari adil itu berarti sama rata dan sama rasa? Sepintas memang hal itu benar, tapi mari kita kaji bersama.
Coba kamu bayangkan jika kamu selalu disamaratakan dengan adik kecilmu. Dari mulai porsi makanan, jatah uang jajan, dan lain lain. Apakah itu adalah sebuah keadilan? Atau apabila seseorang mendapatkan suatu musibah akibat kecerobohannya sendiri, lalu di saat yang sama kamu mendapatkan musibah serupa padahal kamu sudah berusaha sedemikian hingga untuk menghindari kecerobohan tersebut. Atau apabila saat kamu bekerja sekian tahun lamanya, namun rekan kerjamu yang baru saja diterima di perusahaan yang sama dengan jabatan yang sama pula, langsung memiliki gaji yang sama denganmu. Apakah analogi-analogi tersebut adalah contoh dari sebuah keadilan? Apakah adil itu berarti sama rata dan sama rasa? Tentu tidak kawan. Adil itu berarti menempatkan sesuatu secara proporsional. Setiap orang memiliki hak yang berbeda meski secara umum sama, namun setiap hak yang dimiliki oleh manusia-manusia tersebut haruslah ditempatkan secara proporsional, yang mungkin secara konteks tidak lebih atau tidak kurang, bila lebih, anggaplah itu sebagai sebuah rizki namun apabila kurang, patutlah kita mengkaji kembali pada progres yang telah dilaksanakan, mungkin karena ada suatu kekurangan dari pencapaian atas apa yang telah kita perbuat atau mungkin karena ada faktor lain.
Dari setiap hak yang telah kita dapatkan, ada suatu kewajiban yang harus kita laksanakan yakni bersyukur.
"Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim [14]: 7)
Ingat, Allah akan menambah nikmatmu apabila kamu bersyukur, syukur bukan sekedar mengucap hamdalah. Bukan berarti tidak boleh, justru harus, mengucap puji dan syukur kepada Tuhan. Namun dalam syukur, kita juga perlu berusaha, atau mengimplementasikannya sebagai cermin bahwa kita benar-benar bersyukur.
Sebagai contoh, kamu dapet rezeki berupa sebuah buku, terus buku yang kamu dapet dipake bener-bener buat menuntut ilmu, terus dibaca dan dirawat sebaik mungkin. Dari buku tersebut, kamu mendapatkan ilmu dan kamu juga mendapatkan pahala, insya Allah buku itu sudah menjadi berkah buat kamu. Allah sudah menambahkan nikmat kamu dari situ karena kamu bersyukur, bersyukur dengan cara menggunakan buku tersebut sebaik mungkin. Atau contoh yang lebih sederhana dan lebih universal.
Kamu telah diberikan nikmat berupa pendidikan yang layak. Kamu telah diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di tempat yang terbaik untuk kamu. Percayalah bahwa tempat kamu menuntut ilmu sekarang adalah tempat yang terbaik untuk kamu, jangan diremehkan, apalagi disesali. Maka bersyukurlah kamu karena masih bisa merasakan sebuah pendidikan yang layak, masih banyak orang di luar sana yang tidak dapat merasakan pendidikan atau bahkan putus sekolah. Bersyukurlah dengan bersungguh-sungguh. Bersyukurlah dengan berusaha melakukan yang terbaik. Bersyukurlah dengan terus berusaha. Bersyukurlah dengan penuh kerja keras. Maka Tuhan akan melipat gandakan nikmatmu di kemudian hari.
Kesimpulannya.
Adil adalah sesuatu hal yang sudah seharusnya kita dapatkan dan laksanakan, adil adalah suatu nikmat yang ditempatkan secara proporsional, seperti Hak dan Kewajiban. Keduanya patut kita syukuri dan pada hakekatnya, filosofi dari syukur sendiri adalah sebuah usaha, kesungguhan hati, dan implementasi atau pengaplikasian dalam kehidupan sehari hari.
Monday, November 21, 2011
Postingan Dikala Merintih
Posted by Adityaji Fachry Izhharuddin at 6:34 PM Labels: Kejadian DUDUL, Kerasnya Hidup
Sabtu kemaren saya pergi bareng temen-temen, 3an cowo semua, udah kayak threesome aja.. tunggu kita bukan gay yang merantau untuk mencari kesenangan birahi! Singkat cerita, saya bersama 2 teman yang lain (Gilang dan Afif) makan di sebuah family restaurant di Richeese Factory PVJ setelah nonton “The Advanture of TinTin 3D” (sumpah rame abis! Must see deh!). Dari judul tempatnya sih menarik abis apa lagi karena saya ini emang suka keju yang di Mix n Match sama makanan lain. “Richeese Factory” kebayangnya sih seperti tempat yang isinya dipenuhi dengan lelehan-lelehan keju dan kita bisa makan keju-keju yang berhamburan dengan bebas seperti iklan produk Richeese di Global Tipi jika kartun Nickelodeon sedang menguasai channel tersebut. Semua bayangan itu hilang setelah kita masuk ke Richeese Factory, ternyata ga ada keju yang bisa kita makan sepuasnya. Kita bertiga mesen sebuah “Fire Chicken Tenders” dengan pedes berlevel seperti Ma’icih. Sebelum ditanya, kita bertiga berdiskusi tentang pedes level berapa yang bakal kita coba? Ada 6 pilihan, level 0 Normal, level 1 Regular, level 2 Medium, level 3 saya lupa deskripsinya, level 4 Extreme, dan level 5 ditulis dengan font gede-gede “Dare to the Heat” eh apa “Dare of the Heat” ya? Tauk deh, gapenting juga.
Setelah berdiskusi, kita dapet keputusan berani. Saya dan Gilang milih yang Regular aja, dan Afif milih yang Medium. Setelah merendah karena beli yang level 1, Afif bilang saya cemen dan saya terus-terusan dibilang begitu... Saya hanya bisa pasrah.
Akhirnya 2 buah minuman (si Afif ga beli, dia ga punya duit), 3 piring Fire Chicken Tenders, dan uang kembalian pun ditangan, tempat duduk pun udah kita dapet. Tempatnya pewe abis sumpah, pantes aja harganya selangit. Si Afif yang pede abis, dengan gaya selangit makan Fire Chicken Tenders level 2-nya yang dia pikir level segitu tuh cuman buat anak SD (gaya selangit bukan berarti si Afif makan itu ayam dengan pose yang gonta ganti dan petatang petenteng, intinya... ya gitulah!). Dengan 1 gigitan pertama, semua merubah asumsinya masing-masing, terutama Afif, jeng jeng jeng, Afif bengong, dia menatap mata saya dan Gilang dalam-dalam. Saya udah cemas duluan, takut si Afif mendadak kejang-kejang, atau karena ayamnya kagak enak... atau karena ternyata Afif tuh homo. Gilang dan saya bertatap mata. Freddie Mercury bangkit dari kubur dan Anjasmara bangkotan. Mulutnya si Afif gemeter, lalu perlahan dia mengatakan 2 buah kata penuh makna sambil merintih... “Pedes anjir”, saya sama si Gilang ngakak liat mukanya Afif. Asumsi dia yang tadinya ‘ah gitu doang’ jadi ‘monyet! Pedes abis!’.
Saya dan Gilang pun berenti ngakak, saya makan duluan, Gilang liatin saya. 1 Gigitan dari saya dan saya pun meninggal. Pedes banget gila! Anjrit manusia macam apa yang udah bikin ayam dengan pedes level 1, terasa seperti ayam dengan pedes level 10!!? Malam itu kita jalani dengan panjang, stres berat, malam yang penuh dengan air mata dan keringat, penuh usaha dan kerja keras, setelah ini saya, Gilang dan Afif mengubah persepsi yang tadinya “Richeese Factory tuh tempat makanan yang dimana mana keju, pokonya asik deh!” menjadi “Richeese Factory tuh tempat bunuh diri”. Hari itu saya menghabiskan
Rp. 35.000 (buat nonton) + Rp. 20.000 (buat Fire Tenders) + Rp. 6000 (buat nasi) + Rp. 5000 (Ron88 ukuran kecil) + Rp.22.500 (diutangin si Afif) + Ongkos (tauk berapa) + Penderitaan tak terbayarkan. Monyet memang selalu ada dimana-mana.
Oh ya besok tuh saya ulangan Trigonometri, dan entah kenapa saya lebih memilih ngeblog dari pada belajar, yaahhh belajar ga belajar juga hasilnya ga akan beda jauh hahaha.
PS: “Cintailah orang yang mencintaimu, bukan orang yang kamu cintai, karena orang yang mencintaimu akan selalu ada disaat kamu membutuhkannya dan orang yang kamu cintai akan pergi disaat kamu membutuhkannya” –Hania Audina-
Monday, November 7, 2011
diulangi :
aditlovely@yahoo.co,id
diperjelas :
@yahoo.co,id
lebih jelas :
.co,id
mampusin aja
co,id
GUE NULISNYA PAKE KOMA DONG!! PAKE KOMA!!! ya jelas aja kagak bisa #berbusa
Gimana kabarnya hay para blogger? Di post kali ini saya nulis sambil uhuk-uhuk dan hacim hacim. Sakit adalah hal yang lazim buat saya, itulah kenapa anggota keluarga melakukan aktifitasnya seperti biasa, tidak ada perubahan apapun dan seakan tidak terjadi apa-apa *nangis*. Saya ga tau kenapa tapi perasaan, ko saya sakit melulu yak? Hampir tiap bulan kayaknya saya sakit terus huhuhu. Ngomong-ngomong soal bulan, ini udah bulan November, berarti oktober udah kelewat dan kalo ga salah saya belum ngepos apa-apa di bulan oktober ke blog saya ini, haduh, meskipun kaga ada yang baca tapi menulis itu harus jadi kebiasaan untuk saya supaya saya ga gagu dan mudah dalam berkomunikasi, biar lebih lancar gituloh. Nah di bulan Oktober kemaren, banyak banget temen-temen saya yang dilanda kegalauan, ga cuman temen, bahkan kecengan saya. Mereka juga berharap yang lebih baik di bulan November ini, padahal menurut saya Oktober November itu ga jauh beda, ia ga sih? Cuman beda bulan doang, mungkin karena sugesti yang berlebihan ummm, perhaps?
Ngomong ngomong soal kecengan, saya ga pernah ngeceng sembarangan orang meskipun rata-rata saya ditolak sebelum nembak sama kecengan saya, saya ga pernah mau ngeceng orang yang salah, saya selalu dapet aura yang berbeda dari tiap kecengan-kecengan saya sejak SMA dan sebaiknya saya meralat kata “kecengan-kecengan” menjadi “kecengan” karena kecengan saya di SMA barulah 2, 1 diantaranya si Amira, yang 1 lagi pernah saya bahas di pos taun lalu, jauh sebelum ini dan namanya saya samarkan dan namanya ga akan saya sebutkan disini (oh ya belum pernah ada cewe yang namanya berakhiran huruf lain selain “A” yang memikat hati saya. Not a suggestion), kalo mo tau hubungin saya saja di depan mekdi simpang dago jam setengah 3 pagi, saya sedang cari makan di comberan deket sana.. YA NGGAK LAH!! Dan setiap saya ngeceng orang yang saya cari tau pertama kali adalah “Dia pake BB apa kaga”. Ya, saya ga mau punya cewe yang pake BB. Biasanya orang akan bertanya “KENAPA?!” dengan penuh penekanan dan penuh semangat, alisnya ngerut, mulutnya jadi manyun kaya pantat ayam, kadang ada yg clangap, dower, atau tonggos (belakangan ketauan kalo yg ini emang udah dari dulu) dan keluar cecak dari bolongan idung (buat Adip kalo baca tulisan ini: yg terakhir ga beneran). Bagi mereka yang juga bertanya tanya, akan saya tegaskan disini.
Saya adalah orang yang bener-bener posesif (cemburuan). Kalo cewe saya pake BB dan saya ga pake BB, dia akan banyak BBMan dengan cowo-cowo lain, maka saya akan cemburu berat dan tersiksa sendiri kalo mikirin hal tersebut pas lagi di kamar (catat: cemburu sama skali ga membantu jika sedang susah BAB karena kurang serat). Kalo saya pake BB dan cewe saya juga pake BB otomatis komunikasi kita bakalan aktif banget. Ga ada kabar sebentar langsung curiga. Ga ada kabar sebentar langsung curiga. Curiga ko cuman sebentar? (lho?!). Kalo dijabanin buat terus komunikas, konsekuensinya adalah: Bosen. SMSan aja saya kadang suka bosen, lah gimana kalo BBMan yang aktif terus?
Itulah kenapa saya ga mau punya cewe yang pake BB. Dan saya juga ga mau pake BB.
Saya sempet stres juga waktu tau cewe saya dulu mau beli BB, tapi untungnya udah putus, jadi ngapain saya saya pikirin? Asoy. Dan waktu ngira kecengan saya pake BB, saya langsung hopeless (sekarang juga hopeless sih) tapi untungnya dia kaga hahaha! Pemburuan pun berlanjut.
Oh ya, buat temen-temen yang waktu bulan Oktober kerjaannya ngegalau terus-terusan, semoga bulan ini tambah semangat. Yang waktu bulan Oktober remedial terus (gue) semoga bulan ini ada kemajuan. Yang waktu bulan Oktober ga pernah ada kesempatan buat ngobrol langsung sama kecengannya semoga sekarang bakal dapet kesempatan itu. Yang waktu bulan Oktober masih jomblo, semoga di bulan November ini bakal dapet seseorang yang emang pantes dan cocok buat kamu. Pokonya di bulan November ini segalanya harus jadi lebih baik deh, oceh!!?
Oh ya hampir saja lupa..
Selamat Idul Adha buat para akhi dan ukhti, semoga Qurbannya diterima dan acara bakar bakaran satenya menyenangkan! Good luck to menghilangkan bau kambings yak!
PS: Gue dapet paha kambing yang guede banget. Asoy beh! *langsung sadar kalo saya ga suka daging kambing* *nangis sambil meluk dengkul*


